
Minions & Monsters resmi menjadi film paling populer di box office Amerika Serikat sepanjang awal Juli 2026. Film ketujuh dari waralaba Despicable Me ini dirilis pada 1 Juli 2026, tepat menjelang akhir pekan libur 4 Juli, dan langsung memuncaki tangga box office nasional. Namun, di balik status terpopulernya, film ini menyimpan cerita yang cukup menarik: pujian kritikus tertinggi sepanjang sejarah waralaba, tetapi bukaan box office terendah dalam rangkaian film Minions.
Sinopsis Singkat Minions & Monsters
Mengambil latar Hollywood era 1920-an, Minions & Monsters mengisahkan perjalanan absurd para Minions yang tiba-tiba menjadi bintang film bisu. Setelah sempat merasakan kejayaan sebagai selebritas, mereka justru kehilangan segalanya, sekaligus secara tidak sengaja melepaskan sekumpulan monster ke dunia nyata. Pada babak berikutnya, para Minions pun harus bahu-membahu menyelamatkan dunia dari kekacauan yang mereka ciptakan sendiri.
Film ini disutradarai oleh Pierre Coffin, yang juga mengisi suara para Minions, bersama penulis naskah Brian Lynch. Deretan pengisi suara papan atas turut memeriahkan film ini, di antaranya Christoph Waltz, Jesse Eisenberg, Jeff Bridges, Allison Janney, Zoey Deutch, hingga kemunculan mengejutkan sutradara legendaris George Lucas.

Rekor Skor Rotten Tomatoes Tertinggi Sepanjang Waralaba
Salah satu pencapaian terbesar Minions & Monsters justru datang dari sisi kritik, bukan box office. Film ini berhasil meraih skor di kisaran 92-93 persen “Fresh” di Rotten Tomatoes, menjadikannya film dengan skor tertinggi sepanjang sejarah waralaba Despicable Me, bahkan melampaui film pertamanya yang selama ini memegang rekor tersebut.
Pencapaian ini tentu menjadi kejutan tersendiri bagi Illumination selaku studio produksi. Sebab, meskipun waralaba Despicable Me selalu sukses secara komersial, catatan kritis mereka sebelumnya terbilang tidak semenonjol performa box office-nya.
Kata Kritikus: Antara Pujian dan Kritik
Sebagian besar kritikus memuji paruh pertama film ini, terutama sentuhan nostalgia terhadap era keemasan Hollywood dan referensi seputar bintang-bintang film bisu klasik. Guy Lodge dari Variety bahkan menyebut film ini sebagai hiburan yang aneh sekaligus penuh niat baik. Sementara itu, kritikus New York Times menilai ini sebagai entri terbaik dari seluruh seri Minions sejauh ini.
Meskipun demikian, tidak semua kritikus memberikan pandangan positif. Beberapa di antaranya, seperti Mark Kennedy dari Associated Press dan Kimberly Jones dari Austin Chronicle, menilai paruh kedua film—ketika unsur monster mulai mendominasi cerita—justru terasa berantakan dan kehilangan arah dibanding paruh pertamanya yang lebih segar. Dengan kata lain, transisi dari kisah Hollywood ke aksi penyelamatan dunia dianggap sebagai titik lemah utama film ini.
Ironi di Box Office: Ulasan Terbaik, Bukaan Terendah
Di sisi lain, capaian kritis yang gemilang ini justru berbanding terbalik dengan performa box office-nya.
Minions & Monsters mencatatkan bukaan lima hari sebesar sekitar 61 juta dolar AS di pasar domestik, jauh dari target awal yang dipatok di angka 80 juta dolar. Angka ini bahkan tercatat sebagai bukaan terendah sepanjang sejarah waralaba, kalah dibanding film Despicable Me pertama pada 2010 silam.
Meskipun demikian, performa internasional film ini justru menunjukkan tren yang lebih menggembirakan,
dengan raihan hampir 100 juta dolar AS dari pasar luar Amerika Serikat. Oleh karena itu, sebagai hasilnya,
total pendapatan global film ini tetap mendekati angka 160 juta dolar AS meski baru tayang dalam waktu singkat.
Kesimpulan: Apakah Layak Ditonton?
Berdasarkan rangkuman konsensus kritikus, Minions & Monsters layak menjadi pilihan tontonan keluarga,
terutama bagi penggemar sinema klasik yang ingin menikmati referensi-referensi cerdas seputar Hollywood era 1920-an.
Namun, perlu dicatat bahwa paruh kedua film ini
kemungkinan akan terasa lebih generik bagi penonton yang mengharapkan konsistensi cerita hingga akhir.
Pada akhirnya, status Minions & Monsters sebagai film terpopuler bulan ini sudah tidak terbantahkan dari sisi box office.
Namun, justru pencapaian kritisnya yang menjadikannya lebih dari sekadar sekuel animasi biasa—sebuah kejutan langka.
ketika sebuah film waralaba besar berhasil memuaskan kritikus sekaligus tetap memuncaki box office.
